Selasa, 05 November 2013

Berkali-kali di dalam al-Qur-an dijelaskan bahwa amal perbuatan yang dilakukan dengan hati dan anggota badan merupakan sebab datangnya dua hal; petunjuk atau kesesatan. Maka sedikit banyaknya perbuatan yang dilakukan seorang hamba dengan hati dan anggota badannya, merupakan penyebab utama datangnya petunjuk atau kesesatan.
Perbuatan yang dilakukan dengan hati dan anggota badan tersebut dapat mendatangkan petunjuk bagi seseorang, layaknya suatu sebab mendatangkan akibat dan pengaruh. Demikian pula yang berlaku pada kesesatan.
Dengan kata lain, semua amal kebajikan yang dilakukan dapat berbuah petunjuk bagi pelakunya. Semakin banyak amal kebajikan yang dilakukan semakin banyak pula petunjuk yang diperoleh. Demikian pula sebaliknya. Semakin banyak perbuatan buruk yang dilakukan, semakin banyak pula kesesatan yang diperoleh. Hal itu karena Allah menyukai kebajikan, sehingga Dia membalasnya dengan petunjuk dan keberuntungan. Tapi Allah tidak menyukai keburukan, sehingga Dia membalasnya dengan kesesatan dan kesengsaraan.
Allah Mahabaik dan mencintai orang-orang yang suka berbuat Baik. Dia menjadikan hati mereka dekat kepada-Nya sesuai dengan kadar kebaikan yang mereka lakukan. Allah pun membenci keburukan dan orang-orang yang suka berbuat buruk. Dan hati mereka dijauhkan dari-Nya sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukan.
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa kebajikan membawa kepada petunjuk adalah firman Allah ta’ala:
الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2)
Ayat ini mengandung dua makna berikut:
  1. Dengan al-Qur-an ini Allah memberikan hidayah kepada orang-orang yang menjaga diri mereka dari segala yang di benci-Nya, sebelum diturunkannya al-Qur’an kepada mereka. Sebab, meskipun mempunyai kepercayaan yang beraneka ragam, umat manusia sebenarnya mengakui bahwa Allah sangat membenci kedzaliman, kekejian dan kerusakan di muka bumi, serta membenci para pelaku perbuatan tersebut. Di samping itu, mereka pun mengetahui bahwa Allah mencintai keadilan, kebaikan, kemurahan hati, kejujuran dan upaya-upaya perbaikan di muka bumi, serta mencintai orang-orang yang mengusahakan hal-hal tersebut. Setelah al-Qur’an diturunkan, Allah lantas memberikan pahala kepada orang yang suka berbuat kebajikan itu, yaitu berupa taufik untuk beriman, sebagai balasan kebaikan dan ketaatan mereka. Di samping itu, Allah menelantarkan orang-orang yang suka berbuat jahat, keji dan aniaya pada waktu itu, sehingga mereka terhalang untuk mendapatkan hidayah-Nya.
  2. Apabila seorang hamba telah mengimani al-Qur’an mengikuti petunjuknya secara umum, serta menerima perintah dan membenarkan kandungan berita di dalamnya, niscaya al-Qur’an menjadi pendorong baginya untuk mendapatkan hidayah lain, hingga ia memperoleh hidayah al-Qur’an ini secara terperinci. Sebagaimana dimaklumi, hidayah Allah tidaklah terbatas. Berapa pun banyaknya hidayah yang diperoleh seorang hamba, pasti masih ada hidayah di atasnya, lalu di atasnya ada lagi hidayah lainnya, dan demikian seterusnya.

2. Antara Takwa dan Hidayah

Semakin meningkat ketakwaan seorang kepada Rabbnya, semakin meningkat pula hidayah yang diperolehnya. Sebaliknya, sebesar kegagalan seorang hamba dalam merajut ketakwaan dirinya, maka sebesar itu pula kegagalannya dalam menggapai hidayah. Dengan kata lain, setiap kali ia menambah kualitas takwanya, maka bertambah pula hidayahnya. Dan setiap kali ia mendapatkan hidayah, berarti kualitas ketakwaannya telah meningkat.
Allah berfirman,
“… sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”  (QS. al-Maidah: 15-16)
Allah juga berfirman,
“…  Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. asy-Syuraa: 13)
Allah pun berfirman,
“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” (QS. al-A’laa: 10)
Dan Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya…” (QS. Yunus: 9)
Dari beberapa ayat ini dapat dipahami bahwa mula-mula Allah memberikan hidayah iman kepada orang-orang tersebut. Setelah beriman, diberikanlah kepada mereka hidayah untuk meningkatkan keimanan tersebut. Lalu hidayah demi hidayah pun akan dianugerahkan kepada mereka.
Makna yang sama juga ditunjukkan oleh firman Allah,
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)
Begitu pula firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan…” (QS. al-Anfaal: 29)
Di antara makna kata furqaan di dalam ayat itu adalah cahaya yang diberikan kepada manusia, sehingga mereka bisa membedakan antara yang haq dan yang  bathil. Atau bisa juga berarti pertolongan dan kemenangan yang mereka peroleh dalam menegakkan yang haq dan menghancurkan yang bathil. Jadi, kata furqaan di dalam ayat itu bisa ditafsirkan dengan kedua makna tersebut.
Allah juga berfirman,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Saba’: 9)
Sebagaimana firman-Nya di beberapa tempat dalam al-Qur’an,
“… Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (QS. Luqman: 31, Ibrahim: 5, Saba’: 9 dan asy-Syuraa: 33)
Dalam ayat-ayat di atas Allah memberitahukan bahwa yang dapat mengambil manfaat dari tanda-tanda kebesaran-Nya hanyalah orang-orang yang bersabar dan bersyukur.
Sementara di dalam ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat tentang keimanan hanyalah orang-orang yang bertakwa dan takut kepada Allah, serta orang-orang yang senantiasa bertaubat dan selalu berupaya mengikuti segala yang diridhai-Nya. Sebagaimana firman-Nya,
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thaha: 1-3)
Dan firman-Nya mengenai hari kiamat,
“Kamu (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” (QS. an-Naazi’at: 45)
Adapun orang yang tidak mengimani hari kiamat, tidak mengharapkan dan tidak takut kepadanya, maka tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah (yang terlihat oleh mata) tidak akan memberikan manfaat baginya.
Oleh karena itu di dalam surat Hud, setelah menyebutkan hukuman umat terdahulu yang mendustakan para rasul Allah serta kehinaan yang mereka peroleh di dunia, Allah berfirman,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat.” (QS. Hud: 103)
Pada ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hukuman bagi orang-orang yang mendustakan para rasul itu akan menjadi pelajaran oleh orang yang takut kepada adzab akhirat. Sedangkan orang yang tidak mengimani hari akhir dan tidak takut terhadap adzab-Nya, niscaya pmberitahuan-Nya tersebut tidak akan menjadi pelajaran dan peringatan baginya. Bahkan apabila mendengar tentang itu, dia akan berkata: “Kebaikan dan keburukan, nikmat dan sengsara, bahagia dan celaka, semua itu akan selalu ada sepanjang masa!” Bahkan tidak jarang ia menyangkutpautkan hal itu dengan faktor astronomis dan mental manusia semata.

3. Tauhid Pangkal Syukur

Sabar dan syukur merupakan faktor yang dibutuhkan seorang hamba untuk dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Sebab iman dibangun di atas pondasi sabar dan syukur. Dikatakan demikian karena pangkal dari syukur adalah tauhid, dan pangkal dari sabar adalah tidak menuruti hawa nafsu.
Sesungguhnya orang musyrik dan orang yang selalu menuruti hawa nafsu tidak akan pernah bisa menjadi orang yang sabar dan bersyukur. Akibatnya ayat-ayat Allah tidak bermanfaat dan tidak berpengaruh terhadap iman di dalam diri mereka.
Perlu kita ingat kembali bahwa kefasikan, kesombongan dan kebohongan akan membawa seseorang pada kesesatan. Ada banyak ayat al-Qur’an yang menerangkan hal ini. Di antaranya adalah beberapa firman Allah di bawah ini:
“Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. al-Baqarah: 26-27)
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)
“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?” (QS. an-Nisaa: 88)
“Dan mereka berkata, ‘Hati kami tertutup.’ Tidak! Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 88)
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur’an).” (QS. al-An’aam: 110)
Melalui ayat-ayat di atas, Allah memberitakan bahwa Dia menghukum hamba-hamba-Nya yang tidak beriman, bahkan berpaling setelah keimanan datang kepada mereka dan mereka pun mengetahui. Allah menghukum mereka dengan cara memalingkan hati dan penglihatan mereka, hingga hal itu menghalangi mereka untuk beriman. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya…” (QS. al-Anfaal: 24)
Maka dari itu Allah memerintahkan manusia agar memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka untuk menempuh jalan kebahagiaan. Allah juga memperingatkan hamba-hamba-Nya agar tidak melanggar atau menunda seruan tersebut sehingga menyebabkan terhalangnya petunjuk itu masuk ke dalam hati mereka, sebagaimana firman-Nya:
“… Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. ash-Shaf: 5)
Allah juga berfirman,
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. al-Muthaffifin: 14)
Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa perbuatan orang-orang yang zhalim itu telah menutupi hati mereka sendiri. Akibatnya, hati mereka tidak dapat mengimani ayat-ayat Allah. Oleh sebab itu pula, mereka berani mengatakan bahwa al-Qur’an hanyalah cerita warisan masa lalu, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
“… al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” (QS. al-An’aam: 25)
Adapun mengenai orang-orang munafik, Allah berfirman,
“… mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.” (QS. at-Taubah: 67)
Allah membalas kelupaan (kelalaian) kaum ini atas-Nya dengan melupakan mereka. Karenanya Allah tidak mengingatkan mereka kepada petunjuk dan rahmat-Nya. Bahkan Dia kemudian membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri [sebagaimana disebutkan dalam al-Hasyr: 19].
Akibatnya orang-orang yang telah memperdayai diri mereka secara tidak sadar tersebut pun enggan menggapai kesempurnaan diri sendiri dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat dan berbuat amal shalih. Padahal ilmu dan amal adalah petunjuk dan agama yang haq. Allah menjadikan mereka lalai dalam mencari, mengenal dan mencintai dua hal ini. Dia juga melemahkan semangat mereka untuk meraih keduanya, sebagai hukuman karena telah melupakan-Nya.
Mengenai kaum munafik ini pula Allah berfirman,
“Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad: 16-17)
Di dalam ayat ini Allah menggandengkan penyebutan menuruti hawa nafsu dan kesesatan yang merupakan akibat dari perbuatan mereka sendiri, sebagaimana Allah menggandengkan penyebutan takwa dan petunjuk-Nya bagi orang-orang yang mendapat petunjuk.
***

Disusun ulang dari Fawaidul Fawaid sebagian dari bab Di Antara Metode Penjelasan al-Qur’an karya Ibnu Qayyim al-jauziyyah, Pustaka Imam Asy-Syafi’i 2012


Imam al-Hafiz Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahak as-Sulami at-Tarmizi, salah seorang ahli hadis kenamaan dan pengarang berbagai kitab yang masyhur, lahir pada tahun 209 H dikota Tirmiz. Setelah menjalani perjalanan panjang untuk belajar, mencatat, berdiskusi dan tukar pikiran serta mengarang, pada akhir kehidupannya beliau mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra dan dalam keadaan seperti inilah akhirnya Imam at-Tirmizi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada malam senin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun.[21]

Imam at-Tirmizi belajar dan meriwayatkan hadis dari ulama-ulama kenamaan. Di antaranya adalah Imam Bukhari, kepadanya at-Tirmizi belajar hadis dan fiqih. At-Tirmizi juga belajar kepada Imam Muslim dan Abu Dawud, bahkan Tirmizi juga belajar hadis dari sebahagian guru-guru mereka. Di antaranya ialah: Qutaibah bin Saudi Arabia’id, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan, Sa’id bin Abd ar-Rahman, Muhammad bib Basyar, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni’, Muhammad bin al-Musanna dan lain-lain.

Hadis-hadis dan ilmu-ilmu Imam at-Tirmizi dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama yang menjadi muridnya. Di antaranya ialah: Makhul Ibn al-Fadl, Muhammad bin Mahmud ‘Anbar, Hammad bin Syakir, ‘Ai-bd bin Muhammad an-Nasfiyun, al-Haisam bin Kulaib asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf an-Nasafi, Abu al-Abbas Muhammad bin Mahbud al-Mahbubi dan lain-lain.

Imam Abi ‘Isa at-Tirmizi diakui oleh para ulama akan keahliannya dalam hadis, kesalehan dan ketaqwaanya. Ia juga terkenal sebagi seseorang yang dapat dipercaya dan sangat teliti. Salah satu bukti kekuatan dan kecepatan hafalannya dapat dilihat dari kisah berikut yang dikemukakan oleh al-Hafiz Ibn Hajar dalam kitab Tahzib at-Tahzib, dari Ahmad bin Abdullah bin Abi Dawud yang berkata:

“Saya mendengar Abu ‘Isa at-Tirmizi berkata, pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Mekkah, dan ketika itu saya telah menulis dua jilid berisi hadis-hadis yang berasal dari seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yan kumaksud itu. Kemudian saya menemuinya, saya mengira bahwa “dua jilid kitab” itu ada padaku. Ternyata yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut melainkan dua jilid yang lain yang serupa dengannya. Ketika saya telah bertemu dengannya saya memohon kepadanya untuk mendengar hadis dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membaca hadis yang dihafalnya.

Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang masih putih bersih tanpa ada tulisan suatu apapun. Demi melihat kenyataan ini ia berkata, “tidakkah engkau malu kepadaku?”. Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah kuhafal semuanya. “Coba bacakan!” Suruhnya. Lalu akupun membacakan seluruhya secara beruntun. Ia bertanya lagi “Apakah engkau telah hapalkan sebelum datang kepadaku?” “tidak” jawabku. Kemudian saya meminta lagi agar ia meriwayatkan hadis yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadis yang tergolong hadis yang sulit dan hadis garif lalu berkata “coba ulangi apa yang kubaca tadi”, lalu aku membacanya dari pertama hingga selesai dan ia berkomentar “ aku belum pernah melihat orang seperti engkau”.

F. Sistematika Penulisan dan Kandungan Sunan at-Tirmizi

Kitab Sunan at-Tirmizi merupakan salah salah satu kitab karya Imam at-Tirmizi terbesar dan paling banyak manfaatnya. Ia tergolong salah satu Kutub as-Sittah (enam kitab pokok dalam bidang hadis) dan ensiklopedi terkenal. Kitab ini terkenal denan nama Jami’ at-Tirmizi, dinisbatkan kepada nama penulisnya yang juga terkenal dengan nama Imam at-Tirmizi Dalam kitabnya ini Imam at-Tirmizi memasukkan hadis sahih, hasan, daif, garib, dan mu’allal, dan hal inilah yang dikritik oleh beberapa ulama terutama dalam bidang fada’il.[22]

Dalam pada itu at-Tirmizi tidak meriwayatkan dalam kitabnya kecuali hadis-hadis yang diamalkan atau dijadikan pegangan oleh ahli fiqih. Metode yang demikian ini merupakan cara atau syarat yang longgar. Oleh karenanya, ia meriwayatkan hadis yang bernilai demikian, baik jalan periwayatanya sahih ataupu tidak sahih. Hanya saja ia selalu memberikan penjelasan yang sesuai dengan keadaan setiap hadis.[23]

Sunannya disusun menurut bab fiqih dan lainnya, terkandung hadis sahih, hasan, dan daif. Beserta penjelasan derajat (kekuatan) hadis. Ia merupakan kitab yang khusus dalam menyatakan hadis bertaraf hasan. Ini karena beliaulah yangpertama menjelaskan hadis hasan lalu menjadikan kitabnya sebagai sumber utama untuk tujuan itu.[24]

Hadis hasan menurut Imam at-Tirmizi ialah:
Perawi dalam Isnadnya tidak dituduh al-Kizb
Tidak syaz
Diriwatkan lebih dari satu jalan.[25]
Diriwayatkan bahwa ia pernah berkata “semua hadis dalam kitab ini dapat diamalkan. Oleh karena itu sebahagian besar ahli ilmu menggunakannya sebagai pegangan kecuali dua buah hadis yaitu:

Pertama, yang artinya:

“Sesungguhnya Rasulallah saw menjamak salat zuhur dan asar dan magrib dengan isya tanpa adanya sebab takut dan dalam perjalanan”.

Kedua, yang artinya:

“Jika ia peminum khamar minum lagi pada yang keempat kalinya maka bunuhlah ia”.

Hadis ini adalah mansukh dan ijma ulama menunjukkan demikian. Sedangkan mengenai salat jamak dalam hadis diatas, para ulam berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk meninggalkannya. Sebahagian ulama berpendapat boleh (jawaz) hukumnya melakukan salat jamak dirumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibn Sirin dan Asyab serta sebahagian ahli fiqih dan ahli hadis juga Ibn Munzir.

Hadis-hadis daif dan munkar yang terdapat dalam kitab ini pada umumnya hanya menyangkut fadail al-amal (anjuran melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan) hadis semacam ini lebih longgar dibandingkan dengan persyaratan bagi hadis-hadis tentang halal dan haram.[26]

Secara keseluruhan kitab Sunan at-Tirmizi terdiri dari 5 juz, 2.376 bab dan 3.956 hadis. Adapun kandungan isi Sunan at-Tirmizi adalah:
Kitab at-Taharah
Kitab as-Salat
Kitab az-Zakat
Kitab as-Saum
Kitab al-Manasik
Kitab al-‘Adahi
Kitab as-Saidi
Kitab al-At’amah
Kitab al-Asyrabah
Kitab ar-Ru’ya
Kitab an-Nikah
Kitab at-Talaq
Kitab al-Hudud
Kitab an-Nuzur wa al-aiman
Kitab ad-Diyat
Kitab al-Jihad
Kitab as-Sair
Kitab al-Buyu’
Kitab al-Isti’zan
Kitab ar-Raqaq
Kitab al-Faraid
Kitab al-Wasaya
Kitab al-Fadail al-Qur’an[27]

G. Pandangan dan Komentar Para Kritikus Hadis Terhadap Kitab Sunan at-Tirmizi

Para ulama besar telah memuji dan menyanjungnya, dan mengakui akan kemuliaan dan keilmuannya. Al-Hafiz Abu Hatim Muhammad bin Hibban, kritikus hadis, menggolongkan at-Tirmizi kedalam saqat (orang–orang yang dapat dipercaya dan kokoh hapalannya) dan berkata: “at-Tirmizi adalah seorang ulama yan mengumpulkan hadis, menyusun kitab, menghafal hadis dan muzakarah (berdiskusi) dengan para ulama”.[28]

Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya ‘Ulumul Hadis menerangkan Muhammad bin’Isa at-Tirmizi adalah seorang penghafal dan ahli hadis yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia memiliki kitab Sunan dan dan kitab al-Jarh wa at-Ta’dil. Hadis-hadisnya diriwayatkan oleh Abu Mahbub dan banyak ulam lain. Ia terkenal sebagai orang yang dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang berilmu luas. Kitabnya al-Jami’ as-Sahih sebagai bukti atas keagungan derajatnya, keluasan hafalannya, banyak bacaannya dan pengetahuannya tentang hadis yang mendalam.[29]

Ali Muhammad bin al-Asir seorang ahli hadis mengatakan bahwa Imam at-Tirmizi merupakan seorang imam yang memberi tuntunan kepada mereka dalam ilmu hadis.[30] Imam at-Tirmizi di samping dikenal sebagai ahli dan penghafal hadis yang mengetahui kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, ia juga dikenal sebagai ahli fiqih yan mewakili pandangan dan wawasan luas. Barang siapa mempelajari kitab jami’ nya ia akan mendapat ketinggian ilmu dan pendalaman penguasaan terhadap berbagai mazhab fiqih.[31]

Kitab beliau tidak sunyi dari kritikan para ulama hadis serta beliau dianggap muttasil, dan mensahih dan menghasan serta mengambil hadis dari rijal duafa (perawi daif) dan matruk. Antar yang mengkritik ini adalah al-Imam al-Hafiz Syamsuddin az-Zahabi (784 H).

Di samping kitab unggulannya Sunan at-Tirmizi, Imam at-Tirmizi banyak menulis kitab-kitab, di antaranya:
Kitab al-Jami’
Kitab al-‘ilal
Kitab at-Tarikh
Kitab asy-Syamail an-Nabawiyah
Kitab az-Zuhd
Kitab al-Asma’ wa al-Kuna

I. Syarah Kitab Sunan at-Tirmizi

Syarah Sunan at-Tirmizi antar lain ditulis oleh:

1. Abu Bakar Muhammad bin Abd Allah al-Isybili al-‘Arabi (w. 543 H), yang mengarang kitab ‘Aridatul Ahwazi ‘ala at-Tirmizi.
2. Ibn Rajah al-Hambali (w. 795 H) kitab syarahnya berhubungan dengan pembahasan ‘ilal yang ada dalam Sunan at Tirmizi.
3. Imam as-Suyuti Asy-Syafi’i(w. 911 H) yang menulis kitab Qutul Mugtazi ‘ala Jami’ at-Tirmiz

Popular Posts

Pesan dan kesan

Belajar dan terus belajar hingga segala sesuatu yang gelap akan menjadi terang. adapun masa lalu yang kelam biarkan dia terbang bersama gugurnya dedaunan setiap musimnya ....


Don't forget after visiting...........


Visit again.... Bye... Bye,,,

This is Me ...

This is me ..

Foto saya
Pemalang, Jawa Tengah, Indonesia
i'm saiful, my complete name is Sibghoturrahman Saifullah .. I was born on the word, as the winner... I wanna be succes person and i wanna make tremoring the world,... see you on the top ............ i'm CHARMING BOY ,.... :)

Aminion

Cartoons Comments Pictures

My Time

Followers

About

Selamat datang di blog ku, insyaallah bermangfaat buat saudara-saudara sekalian pada umumnya... Belajar dan terus belajar hingga segala sesuatu yang gelap akan menjadi terang. adapun masa lalu yang kelam biarkan dia terbang bersama gugurnya dedaunan setiap musimnya ...
Sibghoturrahman Saifullah

Menemukan arti dari sebuah motivasi diri...

Copy Right By Saiful. Diberdayakan oleh Blogger.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Translate

Prayer Time