Jumat, 29 November 2013

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis.” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu.” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadilah: 11).
Bagi seorang muslim menuntut ilmu adalah suatu kewajiban. Islam mengajarkan kita untuk menjadi pembelajar yang berkelanjutan. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang mengatakan bahwa setiap muslim itu wajib menuntut ilmu sejak dilahirkan hingga ajal menjemputnya. Betapa pentingnya seorang muslim mengilmui suatu ilmu karena memang ilmu ibarat cahaya dalam kegelapan. Ibarat manual book Ilmu akan memberikan petunjuk bagi kita dalam menjalani hidup di dunia ini. Bahkan dalam konsep amal, ilmu menjadi unsur yang pokok, selain niat. Amalan kita akan diterima jika didasari dengan niat dan ilmu yang benar. Amal yang tidak didasari dengan niat yang benar hanya karena Allah maka akan ditolak. Begitupun jika amal tidak berlandaskan ilmu yang benar maka dikhawatirkan amalan itu tertolak karena tidak sesuai dengan tuntunan. Sehingga dalam konteks ini upaya mencari ilmu menjadi hal yang sangat penting dan urgensi mengingat setiap aktivitas kita sudah seharusnya berlandaskan ilmu yang benar agar tidak salah dalam melangkah.
Berbicara tentang menuntut ilmu ternyata tak semudah yang kita bayangkan. Namun juga tidak sesulit yang kita takutkan. Ada hal yang menarik yang bisa kita teladani dari sosok Nabi Ibrahim AS untuk menjadi seorang pembelajar yang baik.
Keingintahuan Besar dan Sikap Kritis Seorang Ibrahim Muda
Dilahirkan dari seorang bapak yang kafir kepada Allah menjadi hal yang cukup berat dirasakan oleh Ibrahim muda. Semenjak kecil sang Ayah yang juga sebagai pembuat berhala tentu tidak mengenalkan sang Anak dengan Allah sebagai Tuhannya.  Sang ayah mengajari bahwa Tuhan mereka adalah berhala. Ibrahim muda adalah seorang yang cerdas dan kritis menanggapi itu semua. Ibrahim tak puas dengan apa yang diajarkan ayahnya. Ketidakpuasan ditambah dengan sikap kritis itulah yang menyebabkan Ibrahim tergerak untuk mencari, mencari, dan mencari Tuhan yang memang benar itu siapa. Petualangan pencarian Tuhan pun berlangsung hingga Ibrahim mengira Tuhannya adalah bulan, matahari, dan seterusnya. Sampai akhirnya dia mendapatkan bahwa Tuhannya adalah Dzat yang menciptakan dia dan seluruh alam semesta ini. Dari sinilah kita bisa meneladani betapa besar keingintahuan dari seorang Ibrahim Muda dalam memecahkan suatu tanda tanya dalam hidupnya. Dan yang juga perlu kita contoh adalah semangat pencarian dari keingintahuan beliau. Keingintahuan yang besar tak hanya berhenti pada pemikiran saja, namun juga terimplementasikan dalam aksi nyata untuk mencari jawabannya. Semoga kita sebagai generasi pembelajar bisa belajar dari Ibrahim untuk kritis dalam menyikapi sesuatu dan rasa keingintahuan yang besar pada suatu hal yang termanifestasikan dalam aksi nyata.
Sabar dalam Mengilmui Suatu Hal
Nabi Ibrahim adalah sosok nabi yang mempunyai kesabaran yang luar biasa. Masih ingat betul di saat Nabi Ibrahim harus menanti untuk mendapatkan momongan, beliau harus menunggu hingga usianya sekitar 90 tahun. Penantian yang tak hanya kosong dalam stagnasi usaha. Namun Nabi Ibrahim setiap waktu menyambut penantian itu dengan doa-doa yang terus terpanjatkan kepada-Nya, selain tentunya berusaha. Inilah arti sebuah kesabaran yang bisa kita teladani. Dalam menginginkan suatu hal kita perlu bersabar dalam mencapainya, termasuk dalam proses mencari ilmu. Dalam mencari ilmu kita perlu sabar dalam menempuh proses pembelajaran itu. Sabar dalam menghadapi segala godaan yang menghalangi dan menjadi onak duri di hadapan kita. Sabar dalam menjaga semangat pembelajar sehingga tetap istiqamah di jalan pencarian ilmu ini. Kemudian hal yang terpenting juga adalah kita harus mengisi kesabaran kita dengan doa dan usaha yang senantiasa saling beriringan.
Kesabaran sangat penting bagi para pemburu ilmu. Al-Imam Ibnul Madini meriwayatkan bahwa Asy-Sya’bi pernah ditanya: “Dari mana kamu mendapat ilmu itu semua?” Beliau menjawab: “Dengan meniadakan penyadaran, menempuh perjalanan ke berbagai negeri, dan kesabaran seperti sabarnya benda mati, dan bergegas-gegas pagi-pagi seperti burung gagak”. (At-Tadzkiroh, Adz Dzahabi). Menuntut ilmu bukan hal yang instant, kita belajar kita langsung dapat ilmu yang kita inginkan. Bukan seperti itu, namun mencari ilmu adalah proses yang panjang. Apalagi kita tahu bahwa mencari Ilmu itu sebuah masa yang cukup panjang bagi kita, bayangkan saja kita sebagai seorang muslim diwajibkan menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Menuntut ilmu bukan hanya dalam konteks akademik apalagi hanya sebatas mengikuti anjuran pemerintah yakni memenuhi tuntutan Wajib Belajar 12 Tahun. Menuntut ilmu bagi seorang muslim adalah berkelanjutan dan tiada akhir. Sehingga tentu perlu kesabaran yang luar biasa sebagai kekuatan dalam menjaga semangat berkelanjutan dalam menuntut Ilmu. Dan dengan sabarlah ilmu kita akan bertahan dan dengan sabarlah ilmu akan didekatkan dengan pencarinya.
Ikhlas dan Taat Menjalani Perintah
Ikhlas dalam melaksanakan ketaatan. Memiliki anak adalah kebanggaan para orangtua. Begitu sayangnya, para orangtua akan berupaya mati-matian menjaga keselamatan buah hatinya. Nabi Ibrahim AS setelah sekian lama menunggu dianugerahi seorang anak, di saat anak itu sudah dewasa Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Menyembelih anak sendiri sungguh sangatlah sulit dilakukan walaupun hal tersebut atas perintah Allah SWT. Hanya orang yang benar-benar ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT yang mampu melaksanakannya. Nabi Ibrahim as adalah contoh kongkretnya. Berbeda halnya dengan kita, kadang berkurban pun masih sempat-sempatnya ingin pamer ketaatan kepada manusia.
Membuktikan ketaatan kepada Allah SWT, tak mungkin hanya setengah-setengah atau ala kadarnya. Haruslah totalitas dan kaffah menjalani perintah Allah itu. Banyak sekali firman Allah SWT yang menyinggung masalah pengorbanan dalam pembuktian ketaatan. Misalnya Allah SWT berfirman (yang artinya): Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah [9]: 24).
Ketaatan adalah salah satu modal utama bagi para pembelajar. Sebagai pembelajar yang senantiasa haus akan ilmu kita perlu taat dalam menjalani proses pencarian ilmu itu. Dalam kenyataannya, kita bisa menggunakan konsep ketaatan ini saat kita diberikan perintah oleh guru kita. Seperti Nabi Ibrahim saat diberikan perintah oleh Allah, kita tidak usah banyak tanya dan banyak cakap. Kalau kita sudah percaya kepada Guru kita, segeralah melaksanakan perintah itu.  Begitupun terhadap perintah Allah lainnya, kita harus senantiasa menjalani perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jangan sampai sebagai pembelajar kita justru sering bermaksiat dan berbuat khilaf. Hal ini akan menjadi penghalang terhadap ilmu-ilmu untuk sampai kepada kita.
Demikian jiwa pembelajar yang diajarkan oleh Bapak dari Para Nabi yakni Nabi Ibrahim AS. Kritis terhadap lingkungan kita dan memiliki keingintahuan yang besar sebagai langkah awal kita dalam mencari ilmu. Kemudian mencari ilmu dengan penuh kesabaran dan tak kenal lelah akan berbagai onak duri, selalu menjaga semangat berkelanjutan dalam jiwa kita. Terakhir kita harus ikhlas dan taat dalam menjalani proses yang ada serta tentunya jangan lupa kita niatkan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah dan bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Kalau sudah seperti itu insya Allah ilmu akan didekatkan kepada para pembelajar yang haus akan ilmu. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa diberikan kekuatan untuk tetap istiqamah dalam menapaki jalan pencarian ilmu. Dikuatkan untuk menahan lelahnya menuntut ilmu, agar terhindari dari perihnya kebodohan.
Nuun Wal Qalami Wa Maa Yasthuruun.

Rabu, 27 November 2013

Oso Tutorial - Berbagi Ilmu pengetahuan dunia IT: Download IDM Terbaru 6.18 Build 7 Full Version + P...: Hai... Ketemu lagi deh dengan artikel terbaru saya kali ini saya mau bagi software + Patch supaya full version ga perlu registrasi apala...

Senin, 18 November 2013

Senin, 11 November 2013

Dzikir adalah pembersih dan pengasah hati, serta obatnya bila hati itu sakit.
Selagi orang yang berdzikir itu tenggelam dalam dzikirnya, maka cinta dan kerinduannya kian terpupuk terhadapNya.
Jika ada keselarasan antara hati dengan lisannya, maka orang yang berdzikir akan lalai terhadap segala sesuatu didunia, sebagai gantinya Allah akan menjaganya dari segala sesuatu...

Manakala manusia telah mensucikan hati dan taat dalam menjalankan perintahNya, maka ia akan mampu mempersiapkan dirinya dengan baik, agar dapat bertindak secara bijak dan lurus di semua medan kehidupan....

Orang-orang yang memahami perbedaan, selalu menghindari perdebatan.
Sedangkan yang suka berdebat adalah orang yang selalu merasa dirinya benar.

Sebagian orang mampu menyelam ke dalam dirinya untuk melihat "siapa dirinya dan apa sesungguhnya yang dia inginkan.
Sebagian yang lain harus menjadi orang lain untuk melihat siapa dirinya sendiri.
Yang menyedih itu adalah orang yang tidak tahu "siapa dirinya", dan apa sejatinya yang dia inginkan, serta tidak tahu pula cara untuk mengetahuinya...

Orang-orang yang hidup bersama kemarahan (selalu melampiaskan kemarahannya), biasanya ia tidak bahagia...
"Siapa yang dapat menahan marahnya, padahal ia mampu melampiaskan kemarahannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan ketenangan dan iman"
(Hr. Abu Dawud)
Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’(putra wanita hitam).
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Makah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abdud-dar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir Quraisy.
Ketika Makah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti KhuwailidAbu Bakar ash-ShiddiqAli bin Abi Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.
Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.
Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.
Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras. Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Mekkah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Minggu, 10 November 2013

Setiap manusia memiliki dan diilhamkan dua sisi (dalam hal ini yaitu sisi baik dan sisi buruk) pada kehidupannya.

Namun kedua sisi yang berlawanan kutub tersebut seringnya dilakukan secara bergantian. Bahkan lebih disukai bila sisi kebaikanlah yang berperan aktif dalam kehidupan ini.

Bagaimana cara agar sisi kebaikanlah yang bekerja terus menerus? Tentunya dengan cara selalu mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Kehidupan itu sendiri, yaitu Allah Swt.

Kenapa harus mendekatkan diri kepada Allah, karena sebagai hamba alasan utamanya. Alasan selanjutnya adalah karena manusia begitu lemah sehingga dikhawatirkan akan tergelincir ke dalam sisi keburukan dengan adanya hasutan dari setan.

Tau dong kalau setan sendiri pernah bersumpah akan menggoda manusia agar menjadi pengikutnya.

Jadi wajib hukumnya bagi kita selalu berlindung kepada-Nya.

Sebagai manusia yang diilhamkan kebaikan dan keburukan sekaligus dibekali dengan akal, dimaksudkan agar manusia menggunakan akalnya untuk memilih setiap kali akan bertindak.

Menggunakan akalnya untuk selalu memilih kebaikan dalam menjalani hidup. Dan tetap menggunakan akalnya untuk bangkit dan keluar dari kesalahan yang dilakukan.

Kehidupan ini memang tempatnya masalah dan akan selesai masalah itu saat kematian telah menjemput.

Jadi jangan resah dan gelisah bila sedang dihinggapi masalah. Yakinlah bahwa setiap orang memiliki masalahnya masing-masing dan sesuai kadarnya. Juga harus yakin bahwa masalah itu pasti terlewati dan akan berlalu. Yang terpenting berusaha dan tawakal.

Dalam menghadapi masalah inilah sisi kebaikan dan sisi keburukan biasanya berebut tempat dan peran dalam diri manusia. Dan keduanya ingun selalu menjadi pemenangnya.

Bila sisi keburukan yang menang dan mengambil peran, maka yang ada adalah pikiran untuk putus asa dan segala perilaku buruk untuk menyelesaikan masalah. Misalnya ingin selesai masalah dengan jalan pintas pergi ke guru spiritual (baca dukun).

Sementara bila sisi kebaikan yang mengambil alih peran maka kebaikan yang akan muncul dalam perilaku dan sikap seseorang. Misalnya selalu berusaha dan berkaya dengan bekerja. Diikuti dengan doa dan tawakal.

Satu lagi peran yang paling menentukan yaitu akal. Dengan akal manusia memilih mana yang akan dimenangkan dan berperan dalam dirinya. Sisi kebaikankah atau sisi keburukannya.

Dikatakan di atas kalau manusia memilih. Tentu manusia memilih, karena hidup ini adalah pilihan hanya bagi orang-orang yang berani dan kuat saja.

Jadi bohong kalau ada orang yang terus dalam kubangan kesalahan dalam menjalani kehidupannya dan menyalahkan kalau memang sudah tidak ada pilihan dalam hidup ini.

Seperti maaf seorang penjaja seks, mereka masih punya piliham untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain yang lebih mulia. Tapi ada dari mereka yang tidak mau memilih untuk lebih baik dengan berhenti menjadi pekerja seks dan beralih profesi.

Memang tidak mudah untuk lepas daru sisi keburukan dan membuat pilihan yang baik, namun bukan pula hal yang mustshil.

Awalnya memang sangat berat, di mana pasti penuh dengan masalah-masalah baru yang mungkin timbul. Misalnya faktor ekonomi, yang tadinya begitu mudah untuk mendapatkan uang maka nantinya akan terasa sulit.

Tapi di sinilah sebuah proses yang dinilai dan diganjar pahala kebaikan oleh Pemilik Hidup. Akan menjadi jihad tersendiri saat menjalankan prosesnya. Jihad karena harus menaklukan nafsu yang berada di dalam diri.

Semua ada di hati dan menggunakan akal. Tinggal manusianya yang menentukan pilihan untuk diri masing-masing.
Berikut ini penemuan terbaru yang sangat mengejutkan :
Prof Lawrence E Yoseph : SUNGGUH KITA BERHUTANG BESAR KEPADA ORANG ISLAM

Encyclopedia Americana menulis : "...Sekiranya orang2 Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun shalat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yg berpusat di Hajar Aswad, tdk lg memencarkan gelombang elektromagnetik.

Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas : menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yang mempunyai kadar logam yang sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yg ada. Beberapa astronot yg mengangkasa melihat suatu sinar yg teramat terang mememancar dari bumi, dan setetlah diteliti ternyata bersumber dari Bait Allah atau Ka'bah.

Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yg berfungsi bagai mikrofon yg sdg siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.

Prof Lawrence E Yoseph - Fl Whiple menulis : "...Sungguh kita berhutang besar kpd orang Islam, shalat, tawaf dan tepat waktu menjaga super konduktor itu..."Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha illallah, Allahu Akbar.

Betapa bergetar hati kita melihat dahsyatnya gerakan thawaf haji & Umroh.
Tulisan ini bisa menjawab fitnah & tuduhan jahiliyah yang tak didasari ilmu pengetahuan ; yaitu mengapa kaum Muslimin shalat ke arah kiblat dan bahwa umat Islam di anggap menyembah Hajar Aswad. Wallahu a'lam, hanya Allah Yang Maha Tahu

Selasa, 05 November 2013

Berkali-kali di dalam al-Qur-an dijelaskan bahwa amal perbuatan yang dilakukan dengan hati dan anggota badan merupakan sebab datangnya dua hal; petunjuk atau kesesatan. Maka sedikit banyaknya perbuatan yang dilakukan seorang hamba dengan hati dan anggota badannya, merupakan penyebab utama datangnya petunjuk atau kesesatan.
Perbuatan yang dilakukan dengan hati dan anggota badan tersebut dapat mendatangkan petunjuk bagi seseorang, layaknya suatu sebab mendatangkan akibat dan pengaruh. Demikian pula yang berlaku pada kesesatan.
Dengan kata lain, semua amal kebajikan yang dilakukan dapat berbuah petunjuk bagi pelakunya. Semakin banyak amal kebajikan yang dilakukan semakin banyak pula petunjuk yang diperoleh. Demikian pula sebaliknya. Semakin banyak perbuatan buruk yang dilakukan, semakin banyak pula kesesatan yang diperoleh. Hal itu karena Allah menyukai kebajikan, sehingga Dia membalasnya dengan petunjuk dan keberuntungan. Tapi Allah tidak menyukai keburukan, sehingga Dia membalasnya dengan kesesatan dan kesengsaraan.
Allah Mahabaik dan mencintai orang-orang yang suka berbuat Baik. Dia menjadikan hati mereka dekat kepada-Nya sesuai dengan kadar kebaikan yang mereka lakukan. Allah pun membenci keburukan dan orang-orang yang suka berbuat buruk. Dan hati mereka dijauhkan dari-Nya sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukan.
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa kebajikan membawa kepada petunjuk adalah firman Allah ta’ala:
الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2)
Ayat ini mengandung dua makna berikut:
  1. Dengan al-Qur-an ini Allah memberikan hidayah kepada orang-orang yang menjaga diri mereka dari segala yang di benci-Nya, sebelum diturunkannya al-Qur’an kepada mereka. Sebab, meskipun mempunyai kepercayaan yang beraneka ragam, umat manusia sebenarnya mengakui bahwa Allah sangat membenci kedzaliman, kekejian dan kerusakan di muka bumi, serta membenci para pelaku perbuatan tersebut. Di samping itu, mereka pun mengetahui bahwa Allah mencintai keadilan, kebaikan, kemurahan hati, kejujuran dan upaya-upaya perbaikan di muka bumi, serta mencintai orang-orang yang mengusahakan hal-hal tersebut. Setelah al-Qur’an diturunkan, Allah lantas memberikan pahala kepada orang yang suka berbuat kebajikan itu, yaitu berupa taufik untuk beriman, sebagai balasan kebaikan dan ketaatan mereka. Di samping itu, Allah menelantarkan orang-orang yang suka berbuat jahat, keji dan aniaya pada waktu itu, sehingga mereka terhalang untuk mendapatkan hidayah-Nya.
  2. Apabila seorang hamba telah mengimani al-Qur’an mengikuti petunjuknya secara umum, serta menerima perintah dan membenarkan kandungan berita di dalamnya, niscaya al-Qur’an menjadi pendorong baginya untuk mendapatkan hidayah lain, hingga ia memperoleh hidayah al-Qur’an ini secara terperinci. Sebagaimana dimaklumi, hidayah Allah tidaklah terbatas. Berapa pun banyaknya hidayah yang diperoleh seorang hamba, pasti masih ada hidayah di atasnya, lalu di atasnya ada lagi hidayah lainnya, dan demikian seterusnya.

2. Antara Takwa dan Hidayah

Semakin meningkat ketakwaan seorang kepada Rabbnya, semakin meningkat pula hidayah yang diperolehnya. Sebaliknya, sebesar kegagalan seorang hamba dalam merajut ketakwaan dirinya, maka sebesar itu pula kegagalannya dalam menggapai hidayah. Dengan kata lain, setiap kali ia menambah kualitas takwanya, maka bertambah pula hidayahnya. Dan setiap kali ia mendapatkan hidayah, berarti kualitas ketakwaannya telah meningkat.
Allah berfirman,
“… sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”  (QS. al-Maidah: 15-16)
Allah juga berfirman,
“…  Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. asy-Syuraa: 13)
Allah pun berfirman,
“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” (QS. al-A’laa: 10)
Dan Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya…” (QS. Yunus: 9)
Dari beberapa ayat ini dapat dipahami bahwa mula-mula Allah memberikan hidayah iman kepada orang-orang tersebut. Setelah beriman, diberikanlah kepada mereka hidayah untuk meningkatkan keimanan tersebut. Lalu hidayah demi hidayah pun akan dianugerahkan kepada mereka.
Makna yang sama juga ditunjukkan oleh firman Allah,
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)
Begitu pula firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan…” (QS. al-Anfaal: 29)
Di antara makna kata furqaan di dalam ayat itu adalah cahaya yang diberikan kepada manusia, sehingga mereka bisa membedakan antara yang haq dan yang  bathil. Atau bisa juga berarti pertolongan dan kemenangan yang mereka peroleh dalam menegakkan yang haq dan menghancurkan yang bathil. Jadi, kata furqaan di dalam ayat itu bisa ditafsirkan dengan kedua makna tersebut.
Allah juga berfirman,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Saba’: 9)
Sebagaimana firman-Nya di beberapa tempat dalam al-Qur’an,
“… Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (QS. Luqman: 31, Ibrahim: 5, Saba’: 9 dan asy-Syuraa: 33)
Dalam ayat-ayat di atas Allah memberitahukan bahwa yang dapat mengambil manfaat dari tanda-tanda kebesaran-Nya hanyalah orang-orang yang bersabar dan bersyukur.
Sementara di dalam ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat tentang keimanan hanyalah orang-orang yang bertakwa dan takut kepada Allah, serta orang-orang yang senantiasa bertaubat dan selalu berupaya mengikuti segala yang diridhai-Nya. Sebagaimana firman-Nya,
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thaha: 1-3)
Dan firman-Nya mengenai hari kiamat,
“Kamu (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” (QS. an-Naazi’at: 45)
Adapun orang yang tidak mengimani hari kiamat, tidak mengharapkan dan tidak takut kepadanya, maka tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah (yang terlihat oleh mata) tidak akan memberikan manfaat baginya.
Oleh karena itu di dalam surat Hud, setelah menyebutkan hukuman umat terdahulu yang mendustakan para rasul Allah serta kehinaan yang mereka peroleh di dunia, Allah berfirman,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat.” (QS. Hud: 103)
Pada ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hukuman bagi orang-orang yang mendustakan para rasul itu akan menjadi pelajaran oleh orang yang takut kepada adzab akhirat. Sedangkan orang yang tidak mengimani hari akhir dan tidak takut terhadap adzab-Nya, niscaya pmberitahuan-Nya tersebut tidak akan menjadi pelajaran dan peringatan baginya. Bahkan apabila mendengar tentang itu, dia akan berkata: “Kebaikan dan keburukan, nikmat dan sengsara, bahagia dan celaka, semua itu akan selalu ada sepanjang masa!” Bahkan tidak jarang ia menyangkutpautkan hal itu dengan faktor astronomis dan mental manusia semata.

3. Tauhid Pangkal Syukur

Sabar dan syukur merupakan faktor yang dibutuhkan seorang hamba untuk dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Sebab iman dibangun di atas pondasi sabar dan syukur. Dikatakan demikian karena pangkal dari syukur adalah tauhid, dan pangkal dari sabar adalah tidak menuruti hawa nafsu.
Sesungguhnya orang musyrik dan orang yang selalu menuruti hawa nafsu tidak akan pernah bisa menjadi orang yang sabar dan bersyukur. Akibatnya ayat-ayat Allah tidak bermanfaat dan tidak berpengaruh terhadap iman di dalam diri mereka.
Perlu kita ingat kembali bahwa kefasikan, kesombongan dan kebohongan akan membawa seseorang pada kesesatan. Ada banyak ayat al-Qur’an yang menerangkan hal ini. Di antaranya adalah beberapa firman Allah di bawah ini:
“Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. al-Baqarah: 26-27)
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)
“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?” (QS. an-Nisaa: 88)
“Dan mereka berkata, ‘Hati kami tertutup.’ Tidak! Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 88)
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur’an).” (QS. al-An’aam: 110)
Melalui ayat-ayat di atas, Allah memberitakan bahwa Dia menghukum hamba-hamba-Nya yang tidak beriman, bahkan berpaling setelah keimanan datang kepada mereka dan mereka pun mengetahui. Allah menghukum mereka dengan cara memalingkan hati dan penglihatan mereka, hingga hal itu menghalangi mereka untuk beriman. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya…” (QS. al-Anfaal: 24)
Maka dari itu Allah memerintahkan manusia agar memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka untuk menempuh jalan kebahagiaan. Allah juga memperingatkan hamba-hamba-Nya agar tidak melanggar atau menunda seruan tersebut sehingga menyebabkan terhalangnya petunjuk itu masuk ke dalam hati mereka, sebagaimana firman-Nya:
“… Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. ash-Shaf: 5)
Allah juga berfirman,
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. al-Muthaffifin: 14)
Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa perbuatan orang-orang yang zhalim itu telah menutupi hati mereka sendiri. Akibatnya, hati mereka tidak dapat mengimani ayat-ayat Allah. Oleh sebab itu pula, mereka berani mengatakan bahwa al-Qur’an hanyalah cerita warisan masa lalu, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
“… al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” (QS. al-An’aam: 25)
Adapun mengenai orang-orang munafik, Allah berfirman,
“… mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.” (QS. at-Taubah: 67)
Allah membalas kelupaan (kelalaian) kaum ini atas-Nya dengan melupakan mereka. Karenanya Allah tidak mengingatkan mereka kepada petunjuk dan rahmat-Nya. Bahkan Dia kemudian membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri [sebagaimana disebutkan dalam al-Hasyr: 19].
Akibatnya orang-orang yang telah memperdayai diri mereka secara tidak sadar tersebut pun enggan menggapai kesempurnaan diri sendiri dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat dan berbuat amal shalih. Padahal ilmu dan amal adalah petunjuk dan agama yang haq. Allah menjadikan mereka lalai dalam mencari, mengenal dan mencintai dua hal ini. Dia juga melemahkan semangat mereka untuk meraih keduanya, sebagai hukuman karena telah melupakan-Nya.
Mengenai kaum munafik ini pula Allah berfirman,
“Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad: 16-17)
Di dalam ayat ini Allah menggandengkan penyebutan menuruti hawa nafsu dan kesesatan yang merupakan akibat dari perbuatan mereka sendiri, sebagaimana Allah menggandengkan penyebutan takwa dan petunjuk-Nya bagi orang-orang yang mendapat petunjuk.
***

Disusun ulang dari Fawaidul Fawaid sebagian dari bab Di Antara Metode Penjelasan al-Qur’an karya Ibnu Qayyim al-jauziyyah, Pustaka Imam Asy-Syafi’i 2012


Imam al-Hafiz Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahak as-Sulami at-Tarmizi, salah seorang ahli hadis kenamaan dan pengarang berbagai kitab yang masyhur, lahir pada tahun 209 H dikota Tirmiz. Setelah menjalani perjalanan panjang untuk belajar, mencatat, berdiskusi dan tukar pikiran serta mengarang, pada akhir kehidupannya beliau mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra dan dalam keadaan seperti inilah akhirnya Imam at-Tirmizi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada malam senin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun.[21]

Imam at-Tirmizi belajar dan meriwayatkan hadis dari ulama-ulama kenamaan. Di antaranya adalah Imam Bukhari, kepadanya at-Tirmizi belajar hadis dan fiqih. At-Tirmizi juga belajar kepada Imam Muslim dan Abu Dawud, bahkan Tirmizi juga belajar hadis dari sebahagian guru-guru mereka. Di antaranya ialah: Qutaibah bin Saudi Arabia’id, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan, Sa’id bin Abd ar-Rahman, Muhammad bib Basyar, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni’, Muhammad bin al-Musanna dan lain-lain.

Hadis-hadis dan ilmu-ilmu Imam at-Tirmizi dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama yang menjadi muridnya. Di antaranya ialah: Makhul Ibn al-Fadl, Muhammad bin Mahmud ‘Anbar, Hammad bin Syakir, ‘Ai-bd bin Muhammad an-Nasfiyun, al-Haisam bin Kulaib asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf an-Nasafi, Abu al-Abbas Muhammad bin Mahbud al-Mahbubi dan lain-lain.

Imam Abi ‘Isa at-Tirmizi diakui oleh para ulama akan keahliannya dalam hadis, kesalehan dan ketaqwaanya. Ia juga terkenal sebagi seseorang yang dapat dipercaya dan sangat teliti. Salah satu bukti kekuatan dan kecepatan hafalannya dapat dilihat dari kisah berikut yang dikemukakan oleh al-Hafiz Ibn Hajar dalam kitab Tahzib at-Tahzib, dari Ahmad bin Abdullah bin Abi Dawud yang berkata:

“Saya mendengar Abu ‘Isa at-Tirmizi berkata, pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Mekkah, dan ketika itu saya telah menulis dua jilid berisi hadis-hadis yang berasal dari seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yan kumaksud itu. Kemudian saya menemuinya, saya mengira bahwa “dua jilid kitab” itu ada padaku. Ternyata yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut melainkan dua jilid yang lain yang serupa dengannya. Ketika saya telah bertemu dengannya saya memohon kepadanya untuk mendengar hadis dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membaca hadis yang dihafalnya.

Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang masih putih bersih tanpa ada tulisan suatu apapun. Demi melihat kenyataan ini ia berkata, “tidakkah engkau malu kepadaku?”. Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah kuhafal semuanya. “Coba bacakan!” Suruhnya. Lalu akupun membacakan seluruhya secara beruntun. Ia bertanya lagi “Apakah engkau telah hapalkan sebelum datang kepadaku?” “tidak” jawabku. Kemudian saya meminta lagi agar ia meriwayatkan hadis yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadis yang tergolong hadis yang sulit dan hadis garif lalu berkata “coba ulangi apa yang kubaca tadi”, lalu aku membacanya dari pertama hingga selesai dan ia berkomentar “ aku belum pernah melihat orang seperti engkau”.

F. Sistematika Penulisan dan Kandungan Sunan at-Tirmizi

Kitab Sunan at-Tirmizi merupakan salah salah satu kitab karya Imam at-Tirmizi terbesar dan paling banyak manfaatnya. Ia tergolong salah satu Kutub as-Sittah (enam kitab pokok dalam bidang hadis) dan ensiklopedi terkenal. Kitab ini terkenal denan nama Jami’ at-Tirmizi, dinisbatkan kepada nama penulisnya yang juga terkenal dengan nama Imam at-Tirmizi Dalam kitabnya ini Imam at-Tirmizi memasukkan hadis sahih, hasan, daif, garib, dan mu’allal, dan hal inilah yang dikritik oleh beberapa ulama terutama dalam bidang fada’il.[22]

Dalam pada itu at-Tirmizi tidak meriwayatkan dalam kitabnya kecuali hadis-hadis yang diamalkan atau dijadikan pegangan oleh ahli fiqih. Metode yang demikian ini merupakan cara atau syarat yang longgar. Oleh karenanya, ia meriwayatkan hadis yang bernilai demikian, baik jalan periwayatanya sahih ataupu tidak sahih. Hanya saja ia selalu memberikan penjelasan yang sesuai dengan keadaan setiap hadis.[23]

Sunannya disusun menurut bab fiqih dan lainnya, terkandung hadis sahih, hasan, dan daif. Beserta penjelasan derajat (kekuatan) hadis. Ia merupakan kitab yang khusus dalam menyatakan hadis bertaraf hasan. Ini karena beliaulah yangpertama menjelaskan hadis hasan lalu menjadikan kitabnya sebagai sumber utama untuk tujuan itu.[24]

Hadis hasan menurut Imam at-Tirmizi ialah:
Perawi dalam Isnadnya tidak dituduh al-Kizb
Tidak syaz
Diriwatkan lebih dari satu jalan.[25]
Diriwayatkan bahwa ia pernah berkata “semua hadis dalam kitab ini dapat diamalkan. Oleh karena itu sebahagian besar ahli ilmu menggunakannya sebagai pegangan kecuali dua buah hadis yaitu:

Pertama, yang artinya:

“Sesungguhnya Rasulallah saw menjamak salat zuhur dan asar dan magrib dengan isya tanpa adanya sebab takut dan dalam perjalanan”.

Kedua, yang artinya:

“Jika ia peminum khamar minum lagi pada yang keempat kalinya maka bunuhlah ia”.

Hadis ini adalah mansukh dan ijma ulama menunjukkan demikian. Sedangkan mengenai salat jamak dalam hadis diatas, para ulam berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk meninggalkannya. Sebahagian ulama berpendapat boleh (jawaz) hukumnya melakukan salat jamak dirumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibn Sirin dan Asyab serta sebahagian ahli fiqih dan ahli hadis juga Ibn Munzir.

Hadis-hadis daif dan munkar yang terdapat dalam kitab ini pada umumnya hanya menyangkut fadail al-amal (anjuran melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan) hadis semacam ini lebih longgar dibandingkan dengan persyaratan bagi hadis-hadis tentang halal dan haram.[26]

Secara keseluruhan kitab Sunan at-Tirmizi terdiri dari 5 juz, 2.376 bab dan 3.956 hadis. Adapun kandungan isi Sunan at-Tirmizi adalah:
Kitab at-Taharah
Kitab as-Salat
Kitab az-Zakat
Kitab as-Saum
Kitab al-Manasik
Kitab al-‘Adahi
Kitab as-Saidi
Kitab al-At’amah
Kitab al-Asyrabah
Kitab ar-Ru’ya
Kitab an-Nikah
Kitab at-Talaq
Kitab al-Hudud
Kitab an-Nuzur wa al-aiman
Kitab ad-Diyat
Kitab al-Jihad
Kitab as-Sair
Kitab al-Buyu’
Kitab al-Isti’zan
Kitab ar-Raqaq
Kitab al-Faraid
Kitab al-Wasaya
Kitab al-Fadail al-Qur’an[27]

G. Pandangan dan Komentar Para Kritikus Hadis Terhadap Kitab Sunan at-Tirmizi

Para ulama besar telah memuji dan menyanjungnya, dan mengakui akan kemuliaan dan keilmuannya. Al-Hafiz Abu Hatim Muhammad bin Hibban, kritikus hadis, menggolongkan at-Tirmizi kedalam saqat (orang–orang yang dapat dipercaya dan kokoh hapalannya) dan berkata: “at-Tirmizi adalah seorang ulama yan mengumpulkan hadis, menyusun kitab, menghafal hadis dan muzakarah (berdiskusi) dengan para ulama”.[28]

Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya ‘Ulumul Hadis menerangkan Muhammad bin’Isa at-Tirmizi adalah seorang penghafal dan ahli hadis yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia memiliki kitab Sunan dan dan kitab al-Jarh wa at-Ta’dil. Hadis-hadisnya diriwayatkan oleh Abu Mahbub dan banyak ulam lain. Ia terkenal sebagai orang yang dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang berilmu luas. Kitabnya al-Jami’ as-Sahih sebagai bukti atas keagungan derajatnya, keluasan hafalannya, banyak bacaannya dan pengetahuannya tentang hadis yang mendalam.[29]

Ali Muhammad bin al-Asir seorang ahli hadis mengatakan bahwa Imam at-Tirmizi merupakan seorang imam yang memberi tuntunan kepada mereka dalam ilmu hadis.[30] Imam at-Tirmizi di samping dikenal sebagai ahli dan penghafal hadis yang mengetahui kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, ia juga dikenal sebagai ahli fiqih yan mewakili pandangan dan wawasan luas. Barang siapa mempelajari kitab jami’ nya ia akan mendapat ketinggian ilmu dan pendalaman penguasaan terhadap berbagai mazhab fiqih.[31]

Kitab beliau tidak sunyi dari kritikan para ulama hadis serta beliau dianggap muttasil, dan mensahih dan menghasan serta mengambil hadis dari rijal duafa (perawi daif) dan matruk. Antar yang mengkritik ini adalah al-Imam al-Hafiz Syamsuddin az-Zahabi (784 H).

Di samping kitab unggulannya Sunan at-Tirmizi, Imam at-Tirmizi banyak menulis kitab-kitab, di antaranya:
Kitab al-Jami’
Kitab al-‘ilal
Kitab at-Tarikh
Kitab asy-Syamail an-Nabawiyah
Kitab az-Zuhd
Kitab al-Asma’ wa al-Kuna

I. Syarah Kitab Sunan at-Tirmizi

Syarah Sunan at-Tirmizi antar lain ditulis oleh:

1. Abu Bakar Muhammad bin Abd Allah al-Isybili al-‘Arabi (w. 543 H), yang mengarang kitab ‘Aridatul Ahwazi ‘ala at-Tirmizi.
2. Ibn Rajah al-Hambali (w. 795 H) kitab syarahnya berhubungan dengan pembahasan ‘ilal yang ada dalam Sunan at Tirmizi.
3. Imam as-Suyuti Asy-Syafi’i(w. 911 H) yang menulis kitab Qutul Mugtazi ‘ala Jami’ at-Tirmiz

Senin, 04 November 2013

Peran dan kedudukan perempuan menjadi pembahasan di setiap zaman. Peran dan kedudukan perempuan  sangat dipengaruhi oleh pandangan masyarakat terhadap perempuan. Setidaknya ada tiga pandangan masyarakat terhadap perempuan yang terbagi atas tiga fase yaitu fase menghinakan, fase mendewakan, fase menyamaratakan ( Alfan, tanpa tahun: 10)
Pada fase menghinakan perempuan dianggap seperti hewan bahkan lebih rendah. Perempuan dianggap menjijikkan, hina dan diperjualbelikan di toko, pasar-pasar, dan warung-warung. Perempuan dianggap pelayan laki-laki. Pada fase mendewakan perempuan dipuja-puja, dimuliakan tetapi untuk memuaskan hawa nafsu berahi kaum lelaki. Pada fase menyamaratakan wanita diberi kebebasan seluas-luasnya tanpa terikat pada batasan baik norma adat maupun agama. Wanita harus memiliki hak dan peran yang sama dengan laki-laki dalam segala bidang kehidupan.
Dalam kenyataan perempuan berbeda dengan laki-laki terutama dalam struktur anatominya. Secara fisik perempuan dan laki-laki berbeda. Secara biologis perempuan dilengkapi dengan alat-alat reproduksi sehingga dapat berperan sebagai ibu mampu mengandung dan melahirkan anak, sedangkan laki-laki tidak memiliki potensi untuk itu. 
Dengan perbedaan ini tentunya perempuan dan laki-laki memilki kedudukan dan tugas atau peran yang saling melengkapi. Oleh karena itulah penulis mencoba mengupas Peran dan kedudukan perempuan dalam pandangan Islam. Karena yang berhak menentukan peran dan kedudukan perempuan adalah sang pencipta perempuan itu sendiri, yang telah mengutus rasul Muhammad dan menurunkan kitab Al-Quran sebagai petunjuknya bagi manusia supaya ber-Islam 
Shalat lima waktu ditepati. Sedekah rutin tiap hari. Dengan orangtua sepenuh bakti. Membantu orang lain sepenuh hati. Meluaskan manfaat, ciri jati diri. Perannya sungguh berarti, selalu dinanti.

Pemuda sejati, meski jomblo tetap syar’i…
Senantiasa raih prestasi. Berikan yang terbaik untuk negeri. Mencintai ibu pertiwi sepenuh hati… bukan bunda putri… 
(eh.. :p)

Pemuda sejati, meski jomblo tetap syar’i…
Tak cepat panas hati. Meski semesta jadikan kita bahan ngerumpi. Nanya-nanya, kapan bersuami, kapan beristri? Yang penting tiap hari senyum kita indah berseri…

Pemuda sejati, meski jomblo tetap syar’i…
Tidak suka tebar janji. Orientasi realisasi, bukan sekedar statusisasi. Selalu menjaga hati, tak sampai hati melukai. Karena hatinya bening sekali.

Pemuda sejati, meski jomblo tetap syar’i…
Yang belum mampu tetap bersabar. Yang belum dipertemukanNya tetaplah tegar. Tapi usaha perbaikan diri tetap digelar. Godaan maksiat jangan sampai membuat kita tepar. Hingga nanti tangan-Nya sendiri yang menyentuh Cinta hingga mekar. Barakah melimpah lancar… (Allahumma Aamiin)
Ad Daulatul Islamiyah Melayu
Khilafah Islam Akhir Zaman adalah Negara Islam dengan
Sistem Pemerintahan yang berjalan atas nash-nash Rasulullah SAW
dan Khulafaur Rasyidin almahdiyin.

Sedang menantikan kehadiran Orang-Orang Mukmin yang siap
untuk menjadi Tentara Islam Akhir Zaman
Bila anda Siap Sedia untuk Meraih Kemenangan dan syahid
mari mari menjadi bagian dari Bangsa Islam yang sedang dinantikan dan diberkahi
Insya Allah.

Kami Nantikan kehadiran saudara di
intelijendim[at]muslim.com

http://indonesian.irib.ir/en/hidden-2/-/asset_publisher/yzR7/content/id/5323697/pop_up?_101_INSTANCE_yzR7_viewMode=print

Minggu, 03 November 2013

INDOBLOGER.com | Cara membuat blog, belajar membuat website, cara menghasilkan uang dari internet: Membuat dan Mengganti Favicon Blogger: Sudah tahu yang namanya favicon? Kalau belum, favicon adalah ikon kecil yang muncul di pojok kiri address bar dan pojok kiri tab. Secara def...

Sabtu, 02 November 2013



My dream...  insyaallah.. sampai kesana... makkah,, aamiin..




Ada beberapa pendapat mengenai batasan waktu dzikir pagi:

(1) Pendapat pertama: dimulai dari terbitnya fajar hingga matahari terbit.

Inilah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Kalimuth Thoyyib, Ibnul Qoyyim dalam Al Wabilush Shoyyihb, Muhammad bin Ahmad bin Salim As Safarini Al Hambali dalam kitabnya Ghidza-ul Albaab li Syarh Manzhumatul Aadab, dan Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah.

(2) Pendapat kedua: dimulai dari terbit fajar hingga waktu zawal (matahari bergeser ke barat).

Inilah pendapat Al Lajnah Ad Daimah dalam fatawanya dan menjadi pendapat Syaikh Muhammad bin Sholeh All ‘Utsaimin dalam kajian Liqo’ Al Bab Al Maftuh.

(3) Pendapat ketiga: dimulai dari terbitnya fajar hingga matahari tenggelam.

Demikian pendapat Ibnul Jazaari falam kitabnya Mafatih Al Hishn dan pendapat Asy Syaukani dalam Tuhfatudz Dzaakirin.

Pendapat yang menyatakan bahwa waktu dzikir pagi adalah mulai dari terbit fajar hingga waktu zawal, itulah YANG LEBIH KUAT. Mengenai batasan akhir waktu dzikir pagi tidak ditegaskan dalam dalil, sehingga dikembalikan ke dalam bahasa Arab yaitu apa yang dimaksud akhir waktu pagi. Begitu pula karena waktu masaa’ (sore atau petang) dimulai dari waktu zawal, maka waktu pagi berakhir hingga zawal. Sedangkan dalam dalil hadits ditunjukkan pula bahwa setelah matahari terbit pun masih disebut pagi. Sehingga ketika matahari terbit bukanlah batasan waktu dzikir pagi.
'sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya...,,

Jumat, 01 November 2013

Walaupun suatu waktu ketika ada seseorang
yang telah sengaja mengkhianatimu di masa
lalu.
Maka tak ada alasan bagimu untuk tidak
memberi maaf kepadanya.
Akan tetapi...
Sudah ada cukup alasan bagimu untuk tidak
mempercayainya kembali.
Berhentilah memikirkan orang-orang yang
telah mengecewakanmu di masa lalumu.
Berhentilah berharap kepada orang-orang
yang telah dengan sengaja menyakitimu di
masa
lalumu.
Karena hal itu akan membuat banyak
waktumu terbuang percuma dan sia-sia.
Percayalah...
Allah pasti punya alasan kenapa dia tidak
berada bersamamu di masa sekarang dan di
masa depanmu.
Ingatlah...
Jangan sekali-kali berprasangka buruk
kepada Allah atas keputusan-Nya. Apalagi
sampai membenci Allah karena Ia tidak selalu
memberikan apa yang kamu inginkan.
Tapi yakinlah...
Allah lebih tahu apa yang kamu butuhkan
daripada sekedar apa yang kamu inginkan.
Akan ada waktunya kapan Ia akan
memberimu suatu yang lebih Indah
dibandingkan dengan apa yang telah hilang
dari genggamanmu.
Dan itulah sebenar-benarnya karunia nikmat-
Nya yang terkadang banyak dari kita tidak
menyadarinya.

Popular Posts

Pesan dan kesan

Belajar dan terus belajar hingga segala sesuatu yang gelap akan menjadi terang. adapun masa lalu yang kelam biarkan dia terbang bersama gugurnya dedaunan setiap musimnya ....


Don't forget after visiting...........


Visit again.... Bye... Bye,,,

This is Me ...

This is me ..

Foto saya
Pemalang, Jawa Tengah, Indonesia
i'm saiful, my complete name is Sibghoturrahman Saifullah .. I was born on the word, as the winner... I wanna be succes person and i wanna make tremoring the world,... see you on the top ............ i'm CHARMING BOY ,.... :)

Aminion

Cartoons Comments Pictures

My Time

Followers

About

Selamat datang di blog ku, insyaallah bermangfaat buat saudara-saudara sekalian pada umumnya... Belajar dan terus belajar hingga segala sesuatu yang gelap akan menjadi terang. adapun masa lalu yang kelam biarkan dia terbang bersama gugurnya dedaunan setiap musimnya ...
Sibghoturrahman Saifullah

Menemukan arti dari sebuah motivasi diri...

Copy Right By Saiful. Diberdayakan oleh Blogger.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Translate

Prayer Time