Berkali-kali di dalam al-Qur-an dijelaskan bahwa amal perbuatan yang
dilakukan dengan hati dan anggota badan merupakan sebab datangnya dua
hal; petunjuk atau kesesatan. Maka sedikit banyaknya perbuatan yang
dilakukan seorang hamba dengan hati dan anggota badannya, merupakan
penyebab utama datangnya petunjuk atau kesesatan.
Perbuatan yang dilakukan dengan hati dan anggota badan tersebut dapat
mendatangkan petunjuk bagi seseorang, layaknya suatu sebab mendatangkan
akibat dan pengaruh. Demikian pula yang berlaku pada kesesatan.
Dengan kata lain, semua amal kebajikan yang dilakukan dapat berbuah
petunjuk bagi pelakunya. Semakin banyak amal kebajikan yang dilakukan
semakin banyak pula petunjuk yang diperoleh. Demikian pula sebaliknya.
Semakin banyak perbuatan buruk yang dilakukan, semakin banyak pula
kesesatan
yang diperoleh. Hal itu karena Allah menyukai kebajikan, sehingga Dia
membalasnya dengan petunjuk dan keberuntungan. Tapi Allah tidak menyukai
keburukan, sehingga Dia membalasnya dengan kesesatan dan kesengsaraan.
Allah Mahabaik dan mencintai orang-orang yang suka berbuat Baik. Dia
menjadikan hati mereka dekat kepada-Nya sesuai dengan kadar kebaikan
yang mereka lakukan. Allah pun membenci keburukan dan orang-orang yang
suka berbuat buruk. Dan hati mereka dijauhkan dari-Nya sesuai dengan
kadar kejahatan yang dilakukan.
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa kebajikan membawa kepada petunjuk adalah firman Allah ta’ala:
الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2)
Ayat ini mengandung dua makna berikut:
- Dengan al-Qur-an ini Allah memberikan hidayah kepada orang-orang
yang menjaga diri mereka dari segala yang di benci-Nya, sebelum
diturunkannya al-Qur’an kepada mereka. Sebab, meskipun mempunyai
kepercayaan yang beraneka ragam, umat manusia sebenarnya mengakui bahwa
Allah sangat membenci kedzaliman, kekejian dan kerusakan di muka bumi,
serta membenci para pelaku perbuatan tersebut. Di samping itu, mereka
pun mengetahui bahwa Allah mencintai keadilan, kebaikan, kemurahan hati,
kejujuran dan upaya-upaya perbaikan di muka bumi, serta mencintai
orang-orang yang mengusahakan hal-hal tersebut. Setelah al-Qur’an
diturunkan, Allah lantas memberikan pahala kepada orang yang suka
berbuat kebajikan itu, yaitu berupa taufik untuk beriman,
sebagai balasan kebaikan dan ketaatan mereka. Di samping itu, Allah
menelantarkan orang-orang yang suka berbuat jahat, keji dan aniaya pada
waktu itu, sehingga mereka terhalang untuk mendapatkan hidayah-Nya.
- Apabila seorang hamba telah mengimani al-Qur’an mengikuti
petunjuknya secara umum, serta menerima perintah dan membenarkan
kandungan berita di dalamnya, niscaya al-Qur’an menjadi pendorong
baginya untuk mendapatkan hidayah lain, hingga ia memperoleh hidayah
al-Qur’an ini secara terperinci. Sebagaimana dimaklumi, hidayah Allah
tidaklah terbatas. Berapa pun banyaknya hidayah yang diperoleh seorang
hamba, pasti masih ada hidayah di atasnya, lalu di atasnya ada lagi
hidayah lainnya, dan demikian seterusnya.
2. Antara Takwa dan Hidayah
Semakin meningkat ketakwaan seorang kepada Rabbnya, semakin meningkat
pula hidayah yang diperolehnya. Sebaliknya, sebesar kegagalan seorang
hamba dalam merajut ketakwaan dirinya, maka sebesar itu pula
kegagalannya dalam menggapai hidayah. Dengan kata lain, setiap kali ia
menambah kualitas takwanya, maka bertambah pula hidayahnya. Dan setiap
kali ia mendapatkan hidayah, berarti kualitas ketakwaannya telah
meningkat.
Allah berfirman,
“… sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan
kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak
(pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari
Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki
orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan
(dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan
menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. al-Maidah: 15-16)
Allah juga berfirman,
“… Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan
memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. asy-Syuraa: 13)
Allah pun berfirman,
“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” (QS. al-A’laa: 10)
Dan Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal
saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya…” (QS. Yunus: 9)
Dari beberapa ayat ini dapat dipahami bahwa mula-mula Allah
memberikan hidayah iman kepada orang-orang tersebut. Setelah beriman,
diberikanlah kepada mereka hidayah untuk meningkatkan keimanan tersebut.
Lalu hidayah demi hidayah pun akan dianugerahkan kepada mereka.
Makna yang sama juga ditunjukkan oleh firman Allah,
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)
Begitu pula firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan…” (QS. al-Anfaal: 29)
Di antara makna kata
furqaan di dalam ayat itu adalah cahaya
yang diberikan kepada manusia, sehingga mereka bisa membedakan antara
yang haq dan yang bathil. Atau bisa juga berarti pertolongan dan
kemenangan yang mereka peroleh dalam menegakkan yang haq dan
menghancurkan yang bathil. Jadi, kata
furqaan di dalam ayat itu bisa ditafsirkan dengan kedua makna tersebut.
Allah juga berfirman,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Saba’: 9)
Sebagaimana firman-Nya di beberapa tempat dalam al-Qur’an,
“… Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi
bersyukur.” (QS. Luqman: 31, Ibrahim: 5, Saba’: 9 dan asy-Syuraa: 33)
Dalam ayat-ayat di atas Allah memberitahukan bahwa yang dapat
mengambil manfaat dari tanda-tanda kebesaran-Nya hanyalah orang-orang
yang bersabar dan bersyukur.
Sementara di dalam ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa yang dapat
mengambil manfaat dari ayat-ayat tentang keimanan hanyalah orang-orang
yang bertakwa dan takut kepada Allah, serta orang-orang yang senantiasa
bertaubat dan selalu berupaya mengikuti segala yang
diridhai-Nya. Sebagaimana firman-Nya,
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu
menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada
Allah).” (QS. Thaha: 1-3)
Dan firman-Nya mengenai hari kiamat,
“Kamu (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” (QS. an-Naazi’at: 45)
Adapun orang yang tidak mengimani hari kiamat, tidak mengharapkan dan tidak takut kepadanya, maka tanda-tanda
kebesaran dan kekuasaan Allah (yang terlihat oleh mata) tidak akan memberikan manfaat baginya.
Oleh karena itu di dalam surat Hud, setelah menyebutkan hukuman umat
terdahulu yang mendustakan para rasul Allah serta kehinaan yang mereka
peroleh di dunia, Allah berfirman,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat.” (QS. Hud: 103)
Pada ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hukuman bagi
orang-orang yang mendustakan para rasul itu akan menjadi pelajaran oleh
orang yang takut kepada adzab akhirat. Sedangkan orang yang tidak
mengimani hari akhir dan tidak takut terhadap adzab-Nya, niscaya
pmberitahuan-Nya tersebut tidak akan menjadi pelajaran dan peringatan
baginya. Bahkan apabila mendengar tentang itu, dia akan berkata:
“Kebaikan dan keburukan, nikmat dan sengsara, bahagia dan celaka, semua
itu akan selalu ada sepanjang masa!” Bahkan tidak jarang ia
menyangkutpautkan hal itu dengan faktor astronomis dan mental manusia
semata.
3. Tauhid Pangkal Syukur
Sabar dan
syukur
merupakan faktor yang dibutuhkan seorang hamba untuk dapat mengambil
manfaat dari ayat-ayat Allah. Sebab iman dibangun di atas pondasi sabar
dan syukur. Dikatakan demikian karena
pangkal dari syukur adalah tauhid, dan
pangkal dari sabar adalah tidak menuruti hawa nafsu.
Sesungguhnya orang musyrik dan orang yang selalu menuruti hawa nafsu
tidak akan pernah bisa menjadi orang yang sabar dan bersyukur. Akibatnya ayat-ayat Allah tidak bermanfaat dan tidak berpengaruh terhadap iman di dalam diri mereka.
Perlu kita ingat kembali bahwa kefasikan, kesombongan dan kebohongan
akan membawa seseorang pada kesesatan. Ada banyak ayat al-Qur’an yang
menerangkan hal ini. Di antaranya adalah beberapa firman Allah di bawah
ini:
“Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan
dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan
tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu)
orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu
teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk
menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah
orang-orang yang rugi.” (QS. al-Baqarah: 26-27)
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan
yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah
menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia
kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)
“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam
(menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka
kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?” (QS. an-Nisaa: 88)
“Dan mereka berkata, ‘Hati kami tertutup.’ Tidak! Tetapi
sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka
sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 88)
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka
seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur’an).” (QS. al-An’aam: 110)
Melalui ayat-ayat di atas, Allah memberitakan bahwa Dia menghukum
hamba-hamba-Nya yang tidak beriman, bahkan berpaling setelah keimanan
datang kepada mereka dan mereka pun mengetahui. Allah menghukum mereka
dengan cara memalingkan hati dan penglihatan mereka, hingga hal itu
menghalangi mereka untuk beriman. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam
firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul
apabila dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada
kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia
dan hatinya…” (QS. al-Anfaal: 24)
Maka dari itu Allah memerintahkan manusia agar memenuhi seruan Allah
dan Rasul-Nya pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajak mereka untuk menempuh jalan kebahagiaan. Allah juga
memperingatkan hamba-hamba-Nya
agar tidak melanggar atau menunda seruan tersebut sehingga menyebabkan terhalangnya petunjuk itu masuk ke dalam hati mereka, sebagaimana firman-Nya:
“… Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah
memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum
yang fasik.” (QS. ash-Shaf: 5)
Allah juga berfirman,
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. al-Muthaffifin: 14)
Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa perbuatan orang-orang yang
zhalim itu telah menutupi hati mereka sendiri. Akibatnya, hati mereka
tidak dapat mengimani ayat-ayat Allah. Oleh sebab itu pula, mereka
berani mengatakan bahwa al-Qur’an hanyalah cerita warisan masa lalu,
sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
“… al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” (QS. al-An’aam: 25)
Adapun mengenai orang-orang munafik, Allah berfirman,
“… mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.” (QS. at-Taubah: 67)
Allah membalas kelupaan (kelalaian) kaum ini atas-Nya dengan
melupakan mereka. Karenanya Allah tidak mengingatkan mereka kepada
petunjuk dan rahmat-Nya. Bahkan Dia kemudian membuat mereka lupa kepada
diri mereka sendiri [sebagaimana disebutkan dalam al-Hasyr: 19].
Akibatnya orang-orang yang telah memperdayai diri mereka secara tidak
sadar tersebut pun enggan menggapai kesempurnaan diri sendiri dengan
mempelajari ilmu yang bermanfaat dan berbuat amal shalih. Padahal ilmu
dan amal adalah petunjuk dan agama yang haq. Allah menjadikan mereka
lalai dalam mencari, mengenal dan mencintai dua hal ini. Dia juga
melemahkan semangat mereka untuk meraih keduanya, sebagai hukuman karena
telah melupakan-Nya.
Mengenai kaum munafik ini pula Allah berfirman,
“Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh
Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan orang-orang yang mendapat
petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan
kepada mereka (balasan) ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad: 16-17)
Di dalam ayat ini Allah menggandengkan penyebutan menuruti hawa nafsu
dan kesesatan yang merupakan akibat dari perbuatan mereka sendiri,
sebagaimana Allah menggandengkan penyebutan takwa dan petunjuk-Nya bagi
orang-orang yang mendapat petunjuk.
***
Disusun ulang dari
Fawaidul Fawaid sebagian dari bab Di Antara Metode Penjelasan al-Qur’an karya Ibnu Qayyim al-jauziyyah, Pustaka Imam Asy-Syafi’i 2012